Senin, 12 Maret 2012

Sebagian Besar Penderita HIV/Aids Adalah Pria

PANDEGLANG, KOMPAS.com
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang Iskandar menjelaskan, sebagian besar penderita HIV/AIDS di daerah itu merupakan pria.

"Jumlah penderita HIV/AIDS per Desember 2011 sebanyak 62 orang, dan 80 persen di antaranya laki-laki, dan 20 persen sisanya perempuan," katanya ketika dikonfirmasi di Pandeglang, Minggu (11/3/2012).
Sedangkan berdasarkan status pekerjaan dan pendidikan penderita penyakit itu, menurut dia, cukup beragam mulai karyawan, waria, buruh, tenaga kerja wanita hingga ibu rumah tangga biasa.
Ia juga menjelaskan, sebagian besar penderita HIV/AIDS di daerah itu berasal dari kalangan homoseksual dan pencandu narkoba dengan menggunakan jarum suntik.
"Perilaku menyimpang ini menjadi penyebab terbesar penularan HIV/AIDS, dan sebagian besar penderita tertular saat berada di luar Pandeglang, karena tingginya tingginya tingkat mobilitas warga Pandeglang yang bekerja di luar daerah," katanya.
Untuk mendeteksi penyebaran/penularan HIV di wilayah Pandeglang, Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS setempat secara intensif terus melakukan sero survei pada daerah/wilayah kelompok masyarakat yang berisiko terjadi penularan HIV seperti lembaga pemasyarakat, tempat-tempat kerja, tempat PSK, kelompok waria termasuk pada lokasi salon.
Terkait dengan jumlah penderita HIV/AIDS, menurut dia, dari 62 yang terindentifikasi, sebanyak 45 orang di antaranya positif HIV dan 17 orang positif terjangkit AIDS.
Menurut dia, ODHA yang positif terjangkit AIDS telah meninggal dunia, dan hingga sekarang belum ditemukan penderita baru, dan satu orang penderita HIV meninggal beberapa waktu lalu di RSUD Berkah setempat.
Sedangkan untuk yang positif HIV, kata dia, terjadi peningkatan cukup signifikan, yakni dari sebelumnya hanya 16 orang menjadi 45 orang.
"Penambahan itu, diketahui setelah keluarnya kepastian hasil tes AIDS lanjutan terhadap 27 orang yang sebelumnya teridentifikasi melalui sero survei selama kurun waktu 2011," ujarnya.

10 Penderita HIV/AIDS Kembali Ditemukan di Batang

BATANG, suaramerdeka.com - Sebanyak 10 orang penderita HIV/AIDS di Batang ditemukan selama Januari-Februari 2012. Mereka terdiri dari penderita yang ditemukan di Batang serta warga Batang yang berada di luar kota dan pulang sudah diketahui menderita AIDS.
Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan, Slamet Riyanto, Minggu (11/3), menyatakan, dari 10 penderita HIV/AIDS, tujuh ditemukan di Batang dan sementara sisanya adalah warga Batang yang kemungkinan tertular HIV/AIDS dari luar kota.
''Untuk tujuh orang yang ditemukan di Batang, terdiri dari enam orang perempuan dan satu orang laki-laki. Yang sudah terkena HIV lima orang, dan  penderita AIDS dua orang,'' ujarnya.
Dia menjelaskan, dari tujuh orang tersebut, terdiri atas dua orang ibu rumah tangga, empat orang wanita pekerja seks (WPS) dan satu orang pelanggan. Dinkes juga menemukan tiga orang warga Batang yang sudah menderita AIDS, ketika mereka berada di rumah sakit.
''Mereka bekerja di luar kota, pulang-pulang sudah jadi AIDS. Mereka ketahuan di rumah sakit tapi tidak berurutan,'' tuturnya.
Slamet menyatakan, pihaknya sekarang terus berusaha melakukan penjangkauan terhadap berbagai penderita HIV/AIDS. Tidak hanya WPS saja di lokalisasi yang menjadi sasaran. Namun juga meluas seperti ke komunitas gay dan waria, pelanggan dan pekerja transportasi yang ada di Batang. Kelompok-kelompok tersebut adalah komunitas yang rawan terjangkit HIV/AIDS. Sebelumnya,penjangkauan penderita HIV/AIDS masih difokuskan pada WPS yang ada di lokalisasi. Sementara komunitas yang lain masih belum fokus dilakukan.
Jika ditemukan ada orang dengan HIV/AIDS (ODHA), kata dia, maka Dinkes akan melakukan pemantauan. Termasuk terhadap ibu hamil yang telah menderita HIV/AIDS maka akan diusahakan agar sang anak tidak ikut tertular. Mereka yang sudah terkena HIV/AIDS juga akan diberi pengobatan untuk menangani penyakit mereka.
( Trisno Suhito / CN34 / JBSM )

Sabtu, 10 Maret 2012

Sejarah Singkat Penggunaan & Penyalahgunaan Napza

Sejak ribuan tahun yang lalu, manusia sudah mengenal penggunaan bahan-bahan yang berasal dari tanaman yang tumbuh secara liar baik di hutan maupun di pekarangan rumah seperti ganja, kokain, mariyuana atau tembakau. Bahan-bahan ini selain digunakan untuk tujuan pengobatan juga dapat dipakai dalam ritus keagamaan, sosialisasi, maupun untuk tujuan mencari kesenangan.
Sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran yakni melalui berbagai penelitian ilmiah, bahan-bahan ini kemudian diketahui memiliki zat psikoaktif yang dapat menyebabkan perubahan fisik dan mental para pemakainya. Perubahan yang paling menonjol adalah Mengenal Jenis dan Efek Buruk Narkoba
perubahan perilaku, kesadaran, pikiran, dan perasaan seseorang sehingga menimbulkan perasaan nyaman, gembira dan dapat memperlancar proses sosialisasi ke dalam kelompok tertentu.
Penggunaan bahan-bahan alamiah tersebut mula-mula digunakan oleh penduduk setempat di mana tumbuhan itu berasal. Namun karena manfaat bahan-bahan ini sudah semakin luas penyebarannya dan jalur-jalur perdagangan sudah mulai terbuka, maka tersebarlah bahan-bahan ini dari daerah asalnya ke daerah-daerah lain hingga mencapai dunia internasional.
Opium pertama kali dikenal di Mesopotamia sekitar 5000-6000 tahun sebelum Masehi, kemudian menyebar ke Timur Dekat dan Timur Jauh. Pada abad X opium masuk ke China. Mula-mula digunakan sebagai obat disentri, sampai berabad-abad kemudian melatarbelakangi perang candu (1839-1842) dinegara tersebut. Pada abad ke XIX ketergantungan pada candu merupakan masalah besar di China. Pada awal abad ke XX, di beberapa Negara Asia Tenggara terjadi legalisasi distribusi dan pemakaian opium sampai kemudian dilarang kembali setelah Perang dunia II. Pelarangan dan pengadaan sarana penanggulangan bagi para pecandu opium tidak berhasil menghentikan pemakaian opium karena para pecandu beralih ke bahan- bahan penganti seperti morfin dan heroin yang dapat diperoleh melalui perdagangan gelap.
Catatan awal pemakaian ganja pertama kali ditemukan dalam kompedium pengobatan di China, 2737 tahun sebelum Masehi. Dahulu terjadi kontroversi pemakaian ganja, ada yang menganggap bermanfaat dan ada yang menyatakan tidak. Sepanjang sejarahnya khasiat ganja yang paling menarik perhatian orang adalah sebagai bahan untuk memperoleh perasaan gembira, meningkatkan rasa percaya diri dan optimisme. Sejak ribuan tahun pula zat stimulant telah digunakan manusia, yang paling dikenal orang adalah nikotin dan kafein. Secara klinis zat stimulant dapat menyebabkan perasaan gembira, mengurangi kelelahan dan kebutuhan tidur, peningkatan seksualitas, gangguan pola tidur normal, penurunan selera makan (tetapi energi meningkat), tremor, gelisah dan peningkatan denyut nadi.
Amfetamin pertama kali disintesa pada tahun 1888, tetapi bare diterima oleh masyarakat sebagai obat pada tahun 1932, dalam bentuk inhaler Benzedrine. Penyebarluasan kehebatan khasiatnya disertai dukungan banyak dokter. Namun karena khasiat yang hebat ini ternyata mendorong timbul dan meluasnya penyalahgunaan obat ini. Turunan amfetamin yang sedang trend pada akhir-akhir ini adalah ekstasi.
Perkembangan demi perkembangan terus bergulir. Seiring dengan perkembangan zaman, penggunaan zat¬zat tadi akhirnya menimbulkan dorongan untuk meraup keuntungan secara besar besaran tanpa memperhatikan efek negatif dari penyebaran zat-zat tersebut. Dan yang kita lihat sekarang adalah begitu meluasnya penyalahgunaan ganja, heroin, mariyuana hingga menimbulkan masalah besar dalam berbagai bidang kehidupan. Kehidupan ekonomi terganggu, kehidupan sosial semakin berantakan, bahkan keadaan emosional semakin tidak terkontrol. Timbullah masalah global yang berawal dari penyalahgunaan obat-obat tersebut.

Mahasiswa UNDIP Diskusikan Kebijakan Napza

Semarang 
Gagalnya program kebijakan perang terhadap narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (napza) di Indonesia, Sabtu (10/3) menjadi topik bahasan diskusi di kalangan mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Jawa Tengah.
Dalam diskusi yang dipandu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli NAPZA UNDIP ini, para mahasiswa mendiskusikan sejarah kebijakan napza di seluruh dunia, termasuk gagalnya program kebijakan napza di Indonesia.
“Pecandu narkoba itu korban, dan korban koq malah di penjara,” ujar Dewi, salah satu mahasiswa peserta diskusi.
Senada dengan Dewi, Donny calon anggota UKM Peduli Napza Undip berpendapat bahwa seharusnya para pecandu napza itu di rawat di rumah sakit dan bukan malah di penjara.
Persoalan ini tidak sebanding dengan para anggota DPR yang selalu menuntut untuk menerima gaji besar, sementara kebijakan yang dibuat DPR selama ini masih mengkriminalkan pecandu napza yang juga merupakan pembayar pajak.
“Warga negara yang terjerumus menggunakan napza selama ini tidak pernah mendapatkan pertolongan yang baik dari negara untuk mengatasi kecanduannya,” papar Yvonne Sibuea, koordinator Kelompok Advokasi Perubahan Kebijakan Napza (PERFORMA) Semarang.(Gen)

Kamis, 08 Maret 2012

475 Perempuan DIY Idap HIV/AIDS, Kebanyakan Ibu Rumah Tangga

JOGJA
Ilustrasi
Sebanyak 475 perempuan di DIY tercatat positif mengidap HIV/AIDS. Peningkatan jumlah perempuan pengidap penyakit mematikan ini menjadi salah satu isu utama pada peringatan hari perempuan se-dunia yang jatuh setiap 8 Maret.
Dalam unjuk rasa peringatan hari perempuan se-dunia di depan Gedung Agung, Kamis (8/3), Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Provinsi DIY melansir data penderita HIV/AIDS Jogja yang banyak menimpa kalangan perempuan. Koordinator Aksi PKBI, Liston Octoberry mengatakan, dari 475 kasus HIV/AIDS yang dialami perempuan Jogja saat ini, 150 di antaranya berlatar belakang ibu rumah tangga.
“Angka HIV/AIDS semakin merangkak naik dan semakin berwajah perempuan,” katanya.
Menurut dia, dalam momentum hari perempuan se-dunia, pihaknya menuntut pemerintah memberikan perlindungan bagi perempuan maupun komunitas yang termarginalkan secara seksual dan gender.
Sekjen Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DIY, Riswanto membenarkan data kecenderungan peningkatan pengidap HIV/AIDS dari kalangan perempuan. Menurutnya, perempuan hanya jadi korban karena penyakit menular tersebut dibawa oleh laki-laki. “Apalagi ibu rumah tangga karena yang bawa laki-laki dia subjeknya karena heteroseksual,” ungkap Riswanto.
Lantaran itu pula, upaya penanganan HIV/AIDS saat ini lebih banyak menyasar laki-laki. Misalnya dengan penggunaan kondom. Sosialisasi penecagahan penyakit ini bahkan dilakukan hingga ke perkampungan lewat kegiatan warga. Riswanto menambahkan, saat ini anggaran penanggulangan HIV/AIDS bakal lebih mengandalkan APBD lantaran dana lewat lembaga donor akan dihilangkan. (ali)

Sumber: http://www.solopos.com/2012/harian-jogja/kota-jogja/475-perempuan-diy-idap-hivaids-kebanyakan-ibu-rumah-tangga-168720

Hanya Tiga Kecamatan Bersih dari HIV/AIDS

TEMANGGUNG, KOMPAS.com 
Dari 20 kecamatan di wilayah Kabupaten Temanggung, sejauh ini hanya ada tiga kecamatan yang di dalamnya belum pernah ditemukan kasus HIV/AIDS. Tiga kecamatan tersebut adalah Kecamatan Gemawang, Tlogomulyo, dan Wonoboyo.

Demikian dituturkan oleh Pengelola Program di Komisi Penanggulangan AIDS di Kabupaten Temanggung, Untoro, Rabu (7/3/2012).

Menurut dia, kondisi itu menunjukkan bahwa kasus HIV/AIDS cenderung meluas, dan bukan tidak mungkin di tahun-tahun mendatang, di tiga kecamatan tersebut akan ditemukan penderita HIV/AIDS baru.

Sejak tahun 1997 hingga sekarang, jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Temanggung terdata 180 orang, dan 84 orang diantaranya meninggal dunia.
Dari temuan kasus tersebut, diketahui bahwa 90 orang tertular HIV/AIDS dari hubungan heteroseksual berganti-ganti pasangan, 67 orang tertular dari penggunaan narkoba suntik, dan 23 orang lainnya tertular dari ibunya sejak masih di dalam kandungan, dan hubungan homoseksual.

LP Adalah Lokasi Teraman Untuk Kendalikan Jaringan Narkotika

Ja'far kendalikan narkoba di dalam LP Pemuda
Kabar6-Jaringan narkotika Internasional diindikasi sengaja memilih Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sebagai lokasi paling aman untuk mengendalikan peredaran narkoba.

Demikian dikatakan Wakil Mentri Hukum dan HAM, Denny Indrayana, disela proses penangkapan Jafar (32), Warga Negara (WN) Iran yang ditengarai kuat merupakan otak dibalik aktivitas jaringan narkoba tanah air.

Deni juga tidak membantah kemungkinan adanya aktivitas jaringan narkotika Internasional dilakukan oleh penghuni dibeberapa Lapas yang ada di tanah air.

"Selama ini mereka (bos narkoba) merasa jika Lapas adalah tempat teraman untuk mengatur jaringan narkotika. Terlebih, banyak penghuni lapas yang bebas memiliki handphone (HP)," ujar Deny, Kamis (8/3/2012).

Menurutnya, bebasnya peredaran HP di dalam Lapas, memberikan keleluasaan bagi para bandar narkoba tersebut untuk berkomunikasi dengan dunia luar.

Untuk itu, lanjut Deny, guna memutus mata rantai jaringan narkoba di dalam Lapas, pihaknya sengaja bekerjasama dengan BNN. Karena, tidak tertutup kemungkinan aktivitas dari jaringan tersebut juga melibatkan oknum petugas Lapas.

"Jika terbukti ada kelalaian atau ada oknum petugas lapas yang terlibat, maka kami tidak segan-segan untuk memberikan sanksi tegas. Kalau perlu, kalapasnya sekalian kita copot," kata Deny.

Sebelumnya, BNN meringkus seorang Warga Negara (WN) Iran yang kini tengah mendekam di sel tahanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 2A Pemuda, Jalan TMP Taruna, Kota Tangerang.

Dari dalam kamar sel yang dihuni Jafar, petugas mengamankan sebuah HP dengan belasan kartu selular.(abie/rani)