Senin, 27 Februari 2012

Tantangan Terbesar HIV/AIDS di Indonesia

Tantangan Terbesar. HIV/AIDS di Indonesia adalah sebuah epidemi. Saat ini epidemi HIV ini masih terkonsentrasi, dengan tingkat penularan HIV yang rendah pada populasi umum, namun tinggi pada populasi-populasi tertentu. Ancaman epidemi telah terlihat melalui data infeksi HIV yang terus meningkat
khususnya di kalangan kelompok berisiko tinggi di beberapa tempat di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa HIV/AIDS telah menjadi ancaman bagi Indonesia. Diperkirakan bahwa pada 2010 akan ada sekitar 110.000 orang yang menderita atau meninggal karena AIDS serta sekitar sejuta orang yang mengidap virus HIV.10 

Faktor Resiko. di Indonesia yang dapat mempercepat penyebaran HIV/AIDS antara lain meningkatnya penggunaan napza suntik, perilaku berisiko seperti penggunaan jarum suntik bersama, tingginya penyakit seksual menular pada anak jalanan, keengganan pelanggan seks pria untuk menggunakan kondom, tingginya angka migrasi dan perpindahan penduduk, serta kurangnya pengetahuan dan informasi pencegahan HIV/AIDS. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana melaksanakan program yang secara efektif bisa mengatasi faktor risiko ini, termasuk diantaranya harm reduction pada pengguna napza suntik. Tantangan lainnya adalah bagaimana menjaga ketersediaan dan keterjangkauan obat antiretroviral. Kebijakan dan Program Komitmen nasional dan internasional. Kecepatan penyebaran HIV/AIDS, terutama pada kelompok risiko tinggi, mendapat perhatian utama dari pemerintah. Tanggapan nasional terhadap tingginya tingkat penyebaran penyakit ini adalah cermin dari komitmen internasional, khususnya “Declaration of Commitment” pada UNGASS HIV/AIDS 2001, Deklarasi ASEAN tentang HIV/AIDS (2001), dan Deklarasi “A World Fit for Children” (2002). Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia terdiri atas upaya pencegahan; pengobatan, dukungan, dan perawatan bagi orang yang hidup dengan HIV/AIDS; dan pengawasan. 
Pencegahan merupakan upaya prioritas dalam penanggulangan HIV/AIDS. Hal ini berkaitan erat dengan situasi penularan HIV/AIDS yang ada di masyarakat. Pencegahan penyakit dilakukan melalui upaya kampanye yang meliputi pemberian informasi, edukasi, dan komunikasi (KIE) sesuai dengan budaya dan agama setempat. Ibu hamil didorong untuk melakukan kunjungan antenatal untuk memperoleh informasi tentang HIV dan konseling. Upaya pencegahan juga ditujukan kepada populasi berisiko tinggi seperti pekerja seks komersial dan pelanggannya, orang yang telah terinfeksi dan pasangannya, para pengguna napza suntik, serta pekerja kesehatan yang mudah terpapar oleh infeksi HIV/AIDS.
Pengobatan, dukungan, dan perawatan bagi orang yang hidup dengan HIV/AIDS dilakukan melalui klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing) di sarana kesehatan yang ada. Upaya ini telah dilaksanakan bukan hanya oleh pemerintah tetapi juga oleh beberapa fasilitas kesehatan milik swasta serta lembaga nonpemerintah lainnya. Dalam menjalankan berbagai upaya ini, perlu senantiasa diperhatikan bahwa melayani orang yang hidup dengan HIV/AIDS harus juga melindungi hak asasi manusia melalui berbagai upaya untuk mengurangi dan menghilangkan stigma dan diskriminasi. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan perlu dilakukan berbagai pelatihan dan pendidikan bagi para pekerja lapangan, penyediaan obat yang diperlukan, serta petunjuk pengobatan, dukungan, perawatan, dan konseling.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar